Selasa, 05 Agustus 2014



PEMBAHASAN MATERI EPIDEMIOLOGI ASCARIASIS

A.   PENGERTIAN
Askariasis adalah penyakit cacing yang paling besar prevalensinya di antara penyakit cacing lainnya. Penyakit ini diperkirakan menginfeksi lebih dari 1 miliar orang. Tingginya prevalensi ini terutama karena banyaknya telur disertai dengan daya tahan telur yang mengandung larva cacing pada keadaan tanah yang kondusif.

B.   PATOFISIOLOGI PENYAKIT
Setelah tertelan telur askariasis yang inefektif, telur ini akan menetap di bagian atas usus halus dengan melepaskan larva yang berbentuk rabditiformis. Larva ini akan menembus dinding usus dan mencapai venule dan pembuluh limfe kemudian melalui sirkulasi portal mencapai hati, bagian kanan jantung dan paru-paru.
Di dalam paru, larva akan merusak kapiler dan mulai mengikuti percabangan paru sampai mencapai glotis dan kemudian melewati epiglotis masuk ke dalam esofagus untuk seterusnya kembali ke usus halus, dimana meraka akan jadi matur dan berubah menjadi cacing dewasa.
Keseluruhan siklus mulai dari telur yang infektif sampai menjadi cacing dewasa memerlukan waktu sekitar 2 bulan. Infeksi bertahan dalam masyarakat akibat pembuangan feses di tanah yang memungkinkan perkembangan telur menjadi infektif lagi. Ini memerlukan waktu 2 minggu.
Selama fase migrasi, larva askariasis menyebabkan reaksi peradangan dengan terjadinya infiltrasi eosinofilia. Antigen ascariasis dilepaskan selama migrasi larva yang akan merangsang respon imunologis dalam tubuh dan respon ini telah pernah dibuktikan adanya pelepasan antibodi terhadap kelas IgG yang spesifik yang dapat membentuk reaksi complement-fixation dan precipitating. Mengenai respon kelas IgA terhadap infeksi ascariasis masih kurang diketahui.
Mekanisme pertahanan primer pada infestasi ascariasis mungkin suatu bentuk seluler. Selama fase intestinals maka gejala terutama berasal dari adanya cacing dalam usus atau akibat migrasi kedalam lumen usus yang lain atau perforasi ke dalam peritoneum.
Lebih lanjut ascariasis mengeluarkan antienzim sebagai suatu fungsi proteksi terhadap kelangsungan hidupnya dan ternyata antienzim ini di duga berhubungan dengan terjadinya malabsorbsi.

C.   TINJAUAN PENYAKIT DARI ASPEK EPIDEMIOLOGI
1.      Penyebab
Ascaris lumbricoides, cacing gelang yang berukuran besar yang ada pada usus manusia. Ascariasis suum, parasit yang serupa yang terdapat pada Babi, jarang namun bisa berkembang menjadi dewasa pada usus manusia, namun ia dapat juga menyebabkan “larva migrans”.
Ascariasis disebabkan oleh mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi roundworm eggs. Ascariasi adalah infeksi cacing pada usus yang paling umum. Ditemukan pada orang yang higienisnya buruk, sanitasi yang jelek, dan penggunaan feses sebagai pupuk.
Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.
Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru.
Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa. Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.

2.      Angka Kejadian (Frekuensi) & Penyebaran di Indonesia
Menurut Margono (2000) dalam Oktavianto (2009), di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-90%. Menurut Elmi et al (2004) dalam Oktavianto (2009), pada penelitian epidemiologi yang telah dilakukan hampir di seluruh Indonesia, terutama pada anak-anak sekolah dan umumnya didapatkan angka prevalensi tinggi yang bervariasi. Prevalensi askariasis di propinsi DKI Jakarta adalah 4-91%, Jabar 20-90%, Yogyakarta 12-85%, Jatim 16-74%, Bali 40-95%, NTT 10-75%, Sumut 46-75%, Sumbar 2-71%, Sumsel 51-78%, Sulut 30-72%.

3.      Epidemiologi Deskriptif (Main, Place and Time)
a.       Aspek Main
1)      Umur
Pada umumnya lebih banyak ditemukan pada anak-anak berusia 5  –  10 tahun sebagai host (penjamu) yang juga menunjukkan beban cacing yang lebih tinggi (Haryanti, E, 1993). Ada beberapa kejadian yang menyerang orang dewasa namun frekuensinya rendah. Hal ini disebabkan oleh karena kesadaran anak-anak akan kebersihan dan kesehatan masih rendah ataupun mereka tidak berpikir sampai ke tahap itu. Sehinga anak-anak lebih mudah diinfeksi oleh larva cacing Ascaris misalnya melalui makanan, ataupun infeksi melalui kulit akibat kontak langsung dengan tanah yang mengandung telur Ascaris lumbricoides.
2)      Kelas sosial
Hal ini juga terjadi pada golongan masyarakat yang memiliki tingkat social ekonomi yang rendah, sehingga memiliki kebiasaan membuang hajat (defekasi) ditanah, yang kemudian tanah akan terkontaminasi dengan telur cacing yang infektif dan larva cacing yang seterusnya akan terjadi reinfeksi secara terus menerus pada daerah endemik (Brown dan Harold, 1983).
3)      Pekerjaan
Para pekerja tambang dan pekerja kebun yang menggunakan feses sebagai pupuk cenderung terpapar langsung dengan tanah yang terkontaminasi telur cacing infektif. Mereka beresiko terkena penyakit ascariasis karena keadaan lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak sehat serta langsung berhubungan dengan media tanah.
4)      Penghasilan
Seseorang dengan penghasilan rendah biasanya tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada untuk tindakan pencegahan dan peningkatan status kesehatan. Ini merupakan salah satu penyebab penyakit ascariasis, masyarakat dengan penghasilan rendah tidak mampu untuk menggunakan pelayanan kesehatan dalam rangka pencegahan dan peningkatan status kesehatan.
5)      Pendidikan
Ascariasis banyak diderita oleh anak kecil karena tingkat pengetahuan mereka yang kurang dan kurangnya kesadaran mereka terhadap kebersihan dirinya. Selain itu, peran orang tua sangat penting untuk mengajarkan kepada anak bagaimana cara perawatan diri yang benar dan bagaimana menjaga kesehatan. Jika pendidikan dan pengetahuan orang tua rendah maka kesadaran mereka untuk memberikan pendidikan kesehatan dan melakukan pengawasan terhadap anak juga rendah. Hal ini yang menyebabkan tingginya angka penderita ascariasis pada anak.

b.      Aspek Place
Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar diseluruh dunia, lebih banyak di temukan di daerah beriklim panas dan lembab. Di beberapa daerah tropik derajat infeksi dapat mencapai 100% dari penduduk.
Di pedesan kasus ini lebih tinggi prevalensinya, hal ini terjadi karena buruknya sistem sanitasi lingkungan di  pedesaan, tidak adanya jamban sehingga tinja manusia tidak terisolasi sehingga larva cacing mudah menyebar.

c.       Aspek Time
Perkembangan telur dan larva cacing sangat cocok pada iklim tropik dengan suhu optimal adalah 230C sampai 300C. Jenis tanah liat merupakan tanah yang sangat cocok untuk perkembangan telur cacing, sementara dengan bantuan angin maka telur cacing yang infektif bersama dengan debu dapat menyebar ke lingkungan. Jadi, penyebaran telur cacing ascariasis ini banyak terdapat pada saat cuaca panas dan berangin karena memudahkan perkembangbiakan serta penyebarannya.


4.      Faktor            Utama yang Mempengaruhi Penyakit (Model Beagehole)
a.      Predisposis
1)      Umur
Penyakit Ascariasis biasa menyerang anak-anak berusia 5-10 tahun. Ada pula yang menyerang dewasa tetapi prevalensinya sedikit.
2)      Jenis Kelamin
Penyakit ascariasis menyerang wanita maupun pria. Tidak ada indikator khusus untuk kriteria penderita ascariasi.

b.      Pemungkin
1)      Pendapatan Rendah
Tingkat pendapatan rendah merupakan salah satu faktor penurunan kesadaran masyarakat untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang ada. Masyarakat dengan pendapatan rendah biasanya tidak memeriksakan kesehatan secara berkala sehingga tidak mengetahui kondisi kesehatannya karena keterbatasan biaya. Mengingat biaya kesehatan yang semakin tinggi.
2)      Gizi Buruk
Gizi buruk yang menimpa penderita akan memudahkan penularan penyakit ascariasis. Hal ini dikarenakan penderita gizi buruk mengalami penurunan daya tahan atau imunitas. Daya tahan tubuh sangat penting untuk melindungi tubuh, salah satunya dari serangan parasit cacing.
3)      Perumahan Kumuh
Kodisi lingkungan rumah yang kumuh dapat menyebabkan penyakit ascariasis. Sanitasi yang tidak baik akan menjadi tempat berkembangbiakan bibit penyakit. Misalnya sebuah perumahan yang memiliki sanitasi buruk dengan tempat pembuangan feses tidak tercover, akan menyebabkan pencemaran tanah oleh feses yang kemudian menjadi tempat berkembangbiakan telur cacing ascarisis. Tanah yang tercemar tadi terpegang oleh sesorang dan seseorang tadi tidak mencuci tangan sebelum makan, maka orang tersebut menelan telur ascariasis dan terkenan penyakit ascariasis.

c.       Pencetus
Penyakit ascariasis dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang kotor (sanitasi kehidupan sehari-hari, penggunaan feses sebagai pupuk masih banyak terdapat di masyarakat. Padahal bahaya dari pencemaran tanah akibat pupuk tersebut sangat mengancam kehidupan dan menjadi jalan masuk penyakit ascariasis.
Pola hidup tidak sehat dengan kurang memperhatikan kebersihan lingkunag dan kebersihan diri juga menjadi salah sati faktor pencetus penyakit ascariasis. Orang yang suka sembarangan makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu sangat beresiko terkena penyakit ascariasis karena mereka menelan telur cacing ascariasis. Membuang feses tidak pada tempatnya (membuang hajat sembarangan) juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Tanah akan tercemar oleh feses dan menjadi tempat perkembangbiakan telur cacing ascariasis.

d.      Pemberat
Jenis pekerjaan merupakan faktor pemberat dari penyakit ascariasis. Yang mudah terkena penyakit ini biasanya mereka yang bekerja di dan terpapar langsung dengan tanah. Hal ini dikarenakan tempat hidup cacing ascariasis banyak di tambang. Jenis pekerjaan lainnya yang memudahkan penularan telur cacing ascariasis adalah pekerja perkebunan yang menggunakan feses sebagai pupuk. Karena tanah tempat mereka bekerja menjadi tempat bertelurnya cacing ascariasis.

5.      Pencegahan Penyakit (Model Clarck)
a.      Promotion
Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna serta hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti : 
1)      Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.
2)      Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunkan sabun dan air mengalir.
3)      Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat.
4)      Ajarkan masyarakat menggunakan fasilitas jamban yang memenuhi syarat kesehatan.
5)      Mengajarkan kepada masyarakat agar tidak membuang feses outdors.
6)      Mengajarkan kepada masyarakat untuk tidak kontak langsung dengan tanah tanpa menggunakan pelidung diri (sarung tangan) apalagi dengan tanah yang terkontaminasi feses.

b.      Specifik Protection
1)      Sediakan fasilitas yang cukup memadai untuk pembuangan kotoran yang layak dan cegah kontaminasi tanah pada daerah yang berdekatan langsung dengan rumah, terutama di tempat anak bermain.
2)      Di daerah pedesaan, buatlah jamban umum yang konstruksinya sedemikian rupa sehingga dapat mencegah penyebaran telur askariasis melalui aliran air, angin, dan lain-lain. Kompos yang dibuat dari kotoran manusia untuk digunakan sebagai pupuk kemungkinan tidak membunuh semua telur.
3)      Lakukan kegiatan pemberian obat cacing secara berkala di masyarakat melalui unit pelayanan kesehatan dasar (PUSKESMAS).
4)      Di daerah endemis, jaga agar makanan selalu di tutup supaya tidak terkena debu dan kotoran. Makanan yang telah jatuh ke lantai jangan dimakan kecuali telah dicuci atau dipanaskan.
5)      Ketika bepergian ke negara yang sanitasi dan higienisnya jelek, hindari makanan yang mungkin berkontaminasi dengan tanah.
6)      Mengadakan kemotrapi massal setiap 6 bulan sekali didaerah endemik ataupun daerah yang rawan terhadap penyakit askariasis.

c.       Early Diagnosis and Promt Treatment
1)      Melakukan pemerikasaan kesehatan secara berkala di unit pelayanan kesehatan agar mengetahui kondisi kesehatan dan bisa mencegah terkena penyakit ascariasis.
2)      Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada untuk meningkatkan status kesehatan. Bisa dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar memperoleh informasi tentang diagnosa penyakit dini.

d.      Disabillity Limitation
Investigasi kontak dan sumber infeksi : cari dan temukan penderita lain yang perlu diberikan pengobatan. Perhatikan lingkungan yang tercemar yang menjadi sumber infeksi terutama disekitar rumah penderita. Penderita penyakit askariasis tidak perlu di isolasi ataupun di karantina karena tidak akan membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.
Untuk penaganan wabah di daerah endemis tinggi cukup dengan pemberian penyuluhan tentang sanitasi lingkungan dan higiene perseorangan yang baik serta pengobatan massal kepada kelompok resiko tinggi terutama anak-anak.

e.       Rehabilitation
WHO menyarankan strategi pemberantasan difokuskan pada penduduk dengan resiko tinggi termasuk pengobatan pada masyarakat (juga terhadap Trichuris trichura dan cacing tambang). Pengobatan dibnedakan berdasarkan prevalensi dan beratnya penyakit infeksi:
1)      Pengobatan masal pada wanita (sekali setahun termasuk wanita hamil) dan anak prasekolah usia diatas satu tahun (2 kali setahun). Pengobatan massal untuk anak sekolah diberikan apabila lebih dari 10% menunjukkan adanya infeksi berat (> 50.000) telur askariasis/gram tinja tanpa melihat angka prevalensinya.
2)      Pengobatan massal setahun sekali untuk risiko tinggi (termasuk wanita hamil) apabila prevalensinya > 50% dan infeksi berat pada anak sekolah < 10%.
3)      Pengobatan individual, apabila prevalensinya < 50% dan infeksi berat pada anak sekolah < 10%.

D.   SCREENING PENYAKIT
1.      Metode
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur memastikan diagnosis askariasis. Diagnosis juga dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui hidung, mulut, maupun tinja.
Pemeriksaan tinja dengan cara:
1.        Cara sederhana
2.        Cara konsentrasi (Cara kato)
3.        Cara kuantitatif (Kato katz)

2.      Alasan
Penggunaan metode ini gampang dilakukan atau sederhana. Screening jenis ini lebih efisien karena murah dan hasilnya baik. Efektif dalam memisahkan kelompok yang sakit dan kelompok sehat. Metode ini juga aman dan hasilnya dapat diterima serta tingkat releabilitasnya tinggi.

3.      Penanganan Hasil Tes (+) & (-)
Bagi pasien (+) maka akan dilakukan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan lebih lanjut di unit pelayanan kesehatan terdekat. Pasien di laukakan pemeriksaan penunjang lainnya seperti uji diagnostik untuk menegakkan diagnosa dan menentekukan rencana keperawatan selanjutnya. Setelah menegakkan diagnosa, maka ditentukan pengobatan apa yang sesuai dengan kondisi pasien. Selanjutnya dilakukan perawatan kepada pasien sampai dengan pasien mampu beraktivitas dan berfungsi sebagaimana mestinya dan dapat kembali lagi ke masyarakat.
Penanganan bagi pasien (-) dengan melakukan preventif dan promotif. Pasien diberikan poendidikan kesehatan agar terhindar dari penyakit ascariasis dan di lakukan pelatihan bagaimana caranya menjaga kondisi lingkungan dan menjaga kebersihan diri serta makanan agar meningkatkan status kesehatan pasien.

E.   UJI DIAGNOSTIK PILIHAN
1.      Ascariasis pneumonitis: uji sputum untuk larva ascaris biasanya berguna.
2.      Ascariasis usus: pemeriksaan telur pada feses 
a.       Direct fecal film: simpel dan efektif. Telur mudah ditemukan dengan menggunakan cara ini karen jumlah oviposition betina yang besar, yaitu 240.000 telur cacing perhari. Sehingga metoda ini merupakan metoda utama.
b.      Metoda brine floatation.
c.       Recovery cacing dewasa, jika ditemukan cacing dewasa dan adolescent pada feses, muntah dan organ manusia yang diinfeksi ascariasi, diagnosa bisa ditegakkan.
3.      Abdominal x-ray
4.      USG atau foto perut
5.      Comlpete blood count Diagnosis askariasis dilakukan dengan menemukan telur pada tinja  pasien atau ditemukan cacing dewasa pada anus, hidung, atau mulut.
6.      Pemeriksaan kadar eosinofil dalam darah.

F.    THERAPI
1.      Istirahat

2.      Diet


3.      Obat-obat
a.      ALBENDAZOL
1)      Sifat fisik : tidak larut dalam air, BM 265
2)      Farmakologi dan mekanisme:
Albendazol adalah turunan dari derivat benzimedazol carbamate yang strukturnya berhubungan dengan mebendazol. Mulanya dikenal sebagai obat hewan pada tahun 1975, dan kemudian digunakan sebagai obat antelmentik.obat ini mempunyai spektrum yang luas dalam melawan aktivitas nematoda (Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis, Strongyloides stercoralis, Trichuris trichiura and apillaria philippinensis), sistemic nematoda (Trichinella spiralis and cutaneous larva migrans)  and cestodes (Echinococcus granulosis, E. multilocularis and neurocysticercosis). Albendazol aktif melawan bentuk larva dan dewasa nematoda usus. Metabolit utama adalah albendazole sulphoxide, yang mempunyai respon yang besar dalam farmakologi obat.  Mekanisme kerja : terikat dengan beta tubulin, mencegah pemnbentukan mikrotubula, beta tubulin dipengaruhi oleh beta tubulin Mekanisme potensial yang lain:
a)      menghambat fumarat rduktase , menurunkan NADH.
b)      degradasi RE dan mitokondria, menurun produksi ATP.
3)      Farmakokinetik
Metoda spesifik HPLC telah ditemukan untuk menentukan metabolit aktif albendazol sulphoxide (2,3,4).  Karena mengalami first past metabolism, hanya terdeteksi sedikit jumlahnya atau tidak seluruhnya masuk ke pembuluh darah.
Setelah pemberian oral dengan dosis tunggal 400 mg pada volunter yang sehat. Concentrasi plasma puncaknya adalah 0.04 dan 0.55 μg/ml dari metabolit sulphoxide yang dicapai setelah 1 atau 4 jam. Ketika obat diberikan dengan makanan yang berlemak,  ditemukan peningkatan konsentrasi plasma. Perbendaan konsentrasi plasma dalam dan antar individu dari albendazol sulphoxide telah dilaporkan. Itu mungkin disebabkan karena absorbsi yang tidak menentu dan kemungkinanan perbedaan laju metabolisme. Albendazol terikat pada protein plasma sampai 70%. 
Albendazol secara cepat dan lengakap dioksidasi menjadi metabollit aktif albendazol sulphoxide, yang kemudian dioksidasi menjadi inactif compound albendazol sulphon. Albendazol sulphoxide dieliminasi dari plasma dengan T1/2 9 jam. Dieksresikan melalui ginjal dalam bentuk sulphon dan metabolit yang lain. Sejumlah metabolit yang tidak signifikan dikeluarkan melalui empedu. Albendazol sulphoxida bisa melewati barier pembuluh darah otak, dan konsentrasi yang bisa dicapai di otak adalah 1/3 dari plasma.
4)      Indikasi
Infeksi tunggal atau ganda yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura. albendazol kemungkinana efktif untuk mengobati Strongyloides stercoralis tetapi harus dikontrol apakah lebih baik dari thiabendazol. Albendazol merupakan drug of choice untuk kasus hydatid.
5)      Hamil dan menyusui
Teratogen dan embriotoksisiti dilaporkan pada tikus dan kelinci. Tapi tidak ada laporan pada manusia. Karena menyebabkan teratogen pada hewan dan kurangnya informasi pada manusia, albendazol sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan. Eksresi melalui laktasi belum diketahui.FDA : C/D
6)      Efek Samping
Setelah pemberian tunggal dosis 400 mg, terlihat efek samping minor yaitu nyeri pada epigastric dan diare, kurang dari 6% pasien yang mengalaminya. 
7)      Kontraindikasi dan Peringatan
Belum diketahui kontraindikasi selama pengobatan dengan dosis tunggal nematoda usus. Selama pengobatan hydatid desease, liver transaminase, leukosit dan platelet harus dimonitor secara teratur. 
8)      Interaksi Obat
Dexametason dapat meningkatkan kadar albendazol sulphoxide dalam plasama sampai 50%. 
9)      Dosis Dewasa dan Anak
Dosis tunggal 400 mg. Reinfeksi dengan entrobiasis, dosis berikutnya dibutuhkan setelah 2-4 minggu.10-15 mg/kg/hari (maksimal 800 mg/hari).
10)  Preparat
Zentel ® : tablet 400 mg dan suspensi 2%
Eskazole ®  : tablet 400 mg.

b.      MEBENDAZOLE
1)   Sifat FisikBM 259, praktis tidak larut air.
2)   Farmakologi dan Mekanisme
Mebendazol adalah derivat benzimedazol yang memiliki spektrum anthelmentik yang luas. Keefektifannya tinggi melawan bentuk larva dan dewasa dari Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, hookworms (Ancylostoma duodenale and Necator americanus) dan Capillaria philippinensis. Dengan dosis yang tinggi obat berfek melawan hydatid disease. Invitri study terbaru melaorkan mebendazol efektif melawan Giardia lamblia dibanding metronodazol. Mekanisme kerja: mengikat beta tubula parasit dengan menghambat polimerisasi tubula menjadi mikrotubula, yang merupakan fungsi yang penting dari sel parasit.. beta tubulin tergantung glukosa uptake.  Mekanisme : perintangan pem,asukan glukosa dan mempercepat penggunaannya. (obat-obat penting: 192).
3)        Farmakokinetik
Mebendazol diberikan oral, bioavailabilitas oral kurang dari 20%. Absorbsinya meningkat dengan memakan makanan yang berlemak.dimetabolisme di hati. Vd sekitar 1.2 l/kg. 95% obat terikat dengan protein plasma. Secara ekstensiv dirubah menjadi metabolit inaktif (hidroksi dan aminometabolit) yang memiliki laju clearen yang ebih lambat dari obat induknya. Indikasi  Mebendazol adalh obat pilihan untuk nematode usus. Bisa juga digunakan untuk hydatid disease jika albendazol tidak ada.
4)        Hamil dan Menyususi
Mebendazol dalam dosis tinggi bersifat tertogen dan embriotoksik pada tikus. Dokumentasi pada manusia kuran, pengobatan dengan mebendazol harus dicegah selama awal kehamilan.  Eksresi melalui ASI tidak diketahui.
5)        Efek Samping
Nyeri abdominal, diare, sedikit sakit kepala. Dosis yang besar pada pengobatan hidatyd emiliki ES : toksis pada tulang, alopecia, hepatitis, glomerulonefritis, demam dan exfoliativ dermatitis. 
6)        Kontraindikasi dan Peringatan
Dosis dikurangi pada pasien dengan gangguan hati. Serum transaminase, leukosit dan platelet harus diperikasa selama pengobatan. FDA : C  
7)        Interaksi 
Phenitoin dan karbamazepin dilaporkan menurunkan konsentrasi plasma mebendazol, sedangkan cimetidin memiliki efek yang berlawanan.
8)        Dosis
Dewasa dan Anak-anak 100 mg dua kali sehari selama 3 hari.
9)        Preparat
Pantelmin ® larutan oral 20mg/ml, tablet 100 mg, 500 mg
vermox® oral suspensi 20 mg/ml, tablet 100 mg, 500 mg

c.       LEVOMISOLE
1)        Sifat Fisik
Basa BM 204, HCl BM 241, pKa 8, 1 g terlarut dalam 2 ml air, hindari dari cahaya.
2)        Farmakologi dan Mekanisme
Levomisol adalah L-isomer dari tetramisol dan lebih aktif dari campuran racemiknya. Ini diperkenalkan pada tahun 1966 untuk obat hewan, dan kemudian digunakan untu antelmentik melawan ascariasis.. obat juga bisa digunakan untuk hookworm , tapi hasil study inconsisten.  Mekanisme kerjanya adalah melalui stimulasi autonomic ganglia (nicotinic reseptor) dari cacing. Jika terekspos obat, cacing immature dan dewasa menunjukkan kontraksi spastic yang diikuti paralisis tonic. Mekanisme ini hampir sama dengan antilmentik yang lain yaitu pirantel dan bephenium hidroksinaphtoat. Pada dosis besar levamisol bekerja sebagai imunostimulant (khususnya sel T).
3)        Farmakokinetik
Bioavailabiliti oral tidak diketahui. Setelah pemberian dosis oral 150 mg atau 2.5 mg/kg  pada volunter yang sehat, puncak plasmanya adalah 0.5-0.7 μg/ml yang dicapai dlam 2 jam. Vd bervariasi mulai dari 86-266 liter. Obat secara cepat dimetabolisme. Satu metabolit hidroksilevamisol diidentifikasi dalam urin manusia dan tikus.dan beberapa yang lain tidak teridentifikasi. Pada tikus metabolit yang lain adalah OMPI (2-oxo-3-(2-mercaptoethyl)-5-phenylimidazoline). T1/2 antara 4-5 jam.
4)        Indikasi
Monoinfeksi ascaris lumbricoides. In poliinfeksi mebendazol adalah pilihan utama.
5)        Hamil dan Menyusui
Tidak ada dilaporkan adanya tertogen pada kelinci dan tikus dengan dosis 5 dan 150 mg/kg selama kehamilan. Laporan pada manusia kurang. Pengobatan dengan levamisol ditunda sampai melahirkan. Kecuali indikasi kuat untuk menggunakannya. Eksresi melalui ASI belum diketahui.
6)        Efek Samping
Nausea, vomiting, abdominal pain dan sakit kepala.penggunaan sebagai imunomodulator memberikan efek samping yang serius seperti blood disorder (agranulositosis, neutropenia, dan trombocitopenia) kerusakan ginjal, influenza like reaksi, vasculitis, photosensitivity, dan alergi obat.
7)        Kontraindikasi dan Perhatian
Harus dicegah pada pasian yang alergi obat. Pemberian bersama bisa menyebabkan reaksi seperti reaksi alcohol dan disulfiram.

8)        Interaksi
Levamisol dilaporkan menggantikan ikatan protein rifampicin invitro.
9)        Dosis 
Dewasa: 150 mg levamisol (base) sebagai dosis tunggal Anak-anak: 2,5 mg/kg levamisol (base) sebagai dosis tunggal.
10)    Preparat 
Ketrak ® : oral solution 40 mg base per 5ml, tablet 40 mg base
Solaskil : tablet 30 mg base, 150 mg base
Ergamisol : tablet 50 mg basa
Levamisol tablet 50 mg basa

d.      PIPERAZINE
1)        Sifat Fisik
a)      Piperazine base (anhydrous): MW 86; pKa: 5.6, 9.8.
b)      Piperazine hexahydrate: MW 194. Freely soluble in water.
c)      Piperazine adipate: MW 232.1 g dissolves in 18 ml of water.
d)     Piperazine phosphate: MW 202. 1 g dissolves in 60 ml of water.
e)      Tripiperazine dicitrate (piperazine citrate): MW 643.1 g dissolves in 1.5 ml of water.
2)        Farmakologi dan Mekanisme
Piperazin adalah basa organic heterosiklik secara luas digunakan untuk antelmentik. Ini dikembangkan untuk mengobati gout. Obat ini menyebabkan paralysis flaccid. Piperazin menyebabkan hiperpolarisasi pada otot asacaris.
3)        Farmakokinetik
Tidak ada data yang tersedia tentang BA, tidak ada metabolit yang ditemukan di urin.
4)        Indikasi
Pengobatan infeksi ascaris l dan entrobius vermicularis.
5)        Hamil dan Menyusui
Piperazin telah digunakan selama kehamilan tanpa ada efek teratogen.
6)        Efek Samping
Nausea, vomiting, kram abdominal, diare. Pada overdosis timbul gatal-gatal, kesemutan dan gejala neurotksis.
7)        Kontraindikasi dan Perhatian
Tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipersensiti atau dengan penyakit neurologi terutama pasien epilepsi.
8)        Interaksi
Pada tikus dan mencit, piprezin menigktkan potensi clororazin.
9)        Dosis
Dewasa : dosis tunggal 75 mg/kg piperazin hexahydrate (max 3.5 g)
Anak-anak: 50 mg/kg piperazin hexahidrat (max 2.5 g)
10)    Preparat 
Antepar: oral suspensi 150 mg piperazin hexahidrat. Tablet 500 mg.
e.       Bephenium hydroxynaphtoate (alcopar)
Pemberian dosis tunggal 5 gram.

f.       Pyrantel pamoate (anthelcide, ascantrine, combantrine)
Obat pilihan dengan pemberian dosis tunggal 10mg/kg BB

g.      Obat kombinasi
1)      Pyrantel pamoate (125 mg) dan oxantel pamoate (125 mg) 125/125
Dosis: dewasa 375/375 dosis tunggal.
Anak: 1-5 th 125/125 dosis tunggal 5-12 th 250/250 dosis tunggal.
2)      Mebendazole (150 mg) dan pyrantel pamoate (100 mg)
Selama 3 hari berturut-turut.

G.  RIWAYAT PENYAKIT YANG KHAS
Kurang lebih 85% kasus askariasis tidak menunjukan gejala klinis (asimtomatik), namun beberapa individu dengan keluhan rasa terganggu di abdomen bagian atas dengan intensitas bervariasi.
1.      Migrasi pulmonal
Pada awal migrasi larva melalui paru-paru pada umumnya tidak menimbulkan gejala klinis, namun pada onfeksi berat dapat menyebabkan pneumonitis. Larva askaris dapat menimbulakan reaksi hipersensitif pulmonum, reaksi inflamasi  dan pada individu yang sensitif  dapat menyebabakan gejala seperti asma misalnya batuk, demam, dan sesak nafas. Reaksi jaringan karena migrasi larva yakni inflamasi eosinofilik, granuloma pada jaringan dan hipersensitifitas local menyebabakan peningkatan sekresi mucus, inflamasi bronkiolar dan eksudat serosa. Pada kondisi berat  karena larva yang mati, menimbulkan vaskulitis dengan reaksi granuloma perivaskuler. Inflamasi eosinofilik dekenal dengan  loffler’s sindrom.

2.      Gejala alergi lainnya seperti urtikaria kemerahan di kulit (skin rash), nyeri pada mata dan insomnia karena reaksi alergi terhadap:
a)        Ekskresi dan sekresi metabolik cacing dewasa
b)        Cacing dewasa yang mati

3.      Infeksi intestinal
a)        Cacing dewasa menimbulkan gejala klinis ringan , kecuali pada infeksi berat. Gejala klinis yang sering timbul, gangguan abdominal, nausea, anoreksia dan diare.
b)        Komplikasi  serius akibat migrasi cacing dewasa ke pencernaan  lebih atas akan menyebabkan muntah (cacing keluar lewat mulut atau hidung) atau keluar lewat rectum. Migrasi larva dapat terjadi sebagai akibat rangsangan panas (38,90C).
c)        Sejumlah cacing dapat membentuk bolus (massa) yang dapat menyebabkan obstruksi intestinal secara parsial atau komplet dan menimbulkan rasa sakit pada abdomen, muntah dan kadang-kadang massa dapat di raba.
d)       Migrasi cacing ke kandung empedu, menyebabkan kolik biliare dan kolangitis. Migrasi pada saluran pankreas menyebabkan pankreatitis. Apendisitis dapat disebabkan askaris yang bermigrasi ke dalam saluran apendiks.

4.      Pada anak di bawah umur 5 tahun menyebabakan gangguan nutrisi berat karena cacing dewasa dan dapat di ukur secara langsung dari peningkatan nitrogen pada tinja. Gangguan absorpsi karbohidrat dapat kembali normal setelah cacing dieleminasi.
5.      Askaris dapat menyebabkan protein energy malnutrition. Pada anak-anak yang diinfeksi 13-14 cacing dewasa dapat kehilangan 4 gram protein dari diet yang mengandung 35-50 gram protein/hari (Ideham B dan Pusarawati S, 2007). 

6.      Efek terhadap ekonomi telah banyak diketahui orang, yaitu, menguras banyak uang, karena kemampuan A. lumbrikoides memakan karbohidrat yang cukup besar (Soedarmo, 2008).

H.  PROGNOSA PENYAKIT & ASPEK YANG MEMPENGARUHI PROGNOSA
Pada umumnya, askariasis memiliki prognosis yang baik. Kesembuhan askariasis mencapai 70 hingga 99% (Sutanto et al, 1998). Tanpa pengobatan, infeksi cacing ini dapat sembuh dalam waktu 1,5 tahun.Komplikasi bisa disebabkan oleh cacing dewasa yang bergerak ke organ tertentu menyebabkan blockage usus . Komplikasi yang mungkin terjadi:
a)        Penghambatan sekresi liver
b)        blockage intestine
c)        perforasi in the gut









DAFTAR PUSTAKA

BELL John. C, dkk. 1995. Zoonosis (Infeksi yang Ditularkan dari Hewan ke Manusia). Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Chin, James. 2006. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. CV. Info Medika: Jakarta.
N, Pedro dan Szyfres, Boris. 1980. Zoonoses and Commumcable Diseases Common to Man and Animals. Pan American Health Organization: Washington DC.
Soedarto. 1996. Penyakit-Penyakit Infeksi di Indonesia. Widya Medika: Jakarta.
Soeparman. 1994. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.
T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Erlangga: Jakarta.
http://www.ditjennak.go.id/buletin/artikel_8.pdf (diakses tanggal 18-10-2011 pukul 12.35 WIB)
http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/fkm-rasmaliah.pdf (diakses tanggal 25-10-2011 pukul 14.55 WIB)
http://id.wikipedia.org/wiki/Askariasis (diakses tanggal 18-10-2011 pukul 13.00 WIB)
http://www.docstoc.com/docs/23578800/FARMAOTERAPI-ASCARIASIS (diakses tanggal 18-10-2011 pukul 14.00)
http://www.docstoc.com/docs/23578868/ASCARIS-LUMBRICOIDES (diakses tanggal 18-10-2011 pukul 15.00)
http://doctorology.net/?p=78 (diakses tanggal 18-10-2011 pukul 15.12 WIB)
http://www.scribd.com/doc/62237091/Makalah-Ilmu-Kesehatan-Masyarakat (diakses tanggal 27-10-2011 pukul 00.45 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar