Rabu, 19 Maret 2014

tata tertib dalam laboratorium







PERATURAN DAN TATA TERTIB LABORATORIUM

1.      Tata tertib praktikum :
·         30 menit sebelum praktiukum dimulai, mahasiswa yang akan menjalankan praktikum harus sudah siap di depan laboratorium
·         Sebelum memasuki laboratorium mahasiswa wajib menggunakan APD lengkap dan membawa perlengkapan praktikum (modul, alat tulis, kalkulator, kotak alat)
·         Letakkan tas dan benda lain yang tidak diperlukan pada tempat yang telah disediakan
·         Periksa kelengkapan alat dan bahan yang digunakan sebelum praktikum dimulai, jika ada kerusakan pada alat segera lapor instruktur.
·         Mahasiswa tidak diperkenankan mengganti suatu sediaan tanpa sepengetahuan insstruktur
·         Setiap mahasiswa yang memecahkan suatu sediaan awetan atau merusak alat-alat laboratorium wajib menggantinya dengan yang sama dan bukan dalam bentuk uang.
·         Mahasiswa tidak diperkenankan minggalkan ruang praktikum tanpa ijin instruktur atau PJ mata kuliah
·         Setiap selesai praktikum, sidiaan dan alat-alat yang digunakan dikembalikan pada tempatnya dalam keadaan rapi, bersih dan mikroskop dalam keadaan istirahat
·         Setiap mahasiswa harus mengikuti latihan atau acarah praktikum, apabila 1 kali tidak mengikuti mahasiswa harus melapor pada instruktur dan mengikuti praktikum susulan jika tidak, mahasiswa tidak bisa mengikuti ujian praktikum
·         Hal-hal yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan diatur kemudian


2.      Tata tertib laboratorium
·         Penggunaan laboratorium di luar jam kerja harus sepengetahuan pihak penanggung jawab laboratorium
·         Mahasiswa dilarang tidak menggunakan jas lap dan APD saat berada di laboratorium ketika melaksanakn parktikum
·         Dilarang makan dan minum dilaboratorium
·         Dalam bekerja di laboratorium mikrobiologi, kondisi steril sangat penting, oleh karena itu ikutilah cara kerja steril dan aseptik  yang telah diberikan oleh instruktur
·         Bersihkan meja laboratorium dengan disenfektan sebelum dan sesudah bekerja.
·         Buanglah sampah pada tempatnya
·         Cucilah tangan baik-baik dengan air dan sabun sebelum dan sesudah kegiatan di laboratorium
·         Selesai menggunakan laboratorium harap mematikan peralatan, lampu dan kran air.

Senin, 10 Maret 2014

makalah isolasi dan inokulasi


MAKALAH BAKTERIOLOGI
ISOLASI & INOKULASI
BAKTERI



LOGO POLTEKKES.jpg









Oleh :
Fiqran S Lamani
Nim ; PO 717134071012030


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO





Kata pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. dimana makalah ini merupakan salah satu dari tugas mata kuliah bakteriologi,yaitu tentang Isolasi & Inokulasi bakteri.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Saya  menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin...













Pengertian
Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Isolasi harus diketahui cara-cara menanam dan menumbuhkan mikrobia pada medium biakan serta syarat-syarat lain untuk pertumbuhannya (Jutono, 1980). Memindahkan bakteri dari medium lama kedalam medium yang baru diperlukan ketelitian dan pengsterilan alat-alat yang digunakan, supaya dapat dihindari terjadinya kontaminasi. Pada pemindahan bakteri dicawan petri setelah agar baru, maka cawan petri tersebut harus dibalik, hal ini berfungsi untuk menghindari adanya tetesan air yang mungkin melekat pada dinding tutup cawan petri (Dwijoseputro, 1987).
Mikrobia yang hidup di alam terdapat sebagai populasi campuran dari bebagai jenis mikrobia yang berbeda prinsip dari isolasi mikrobia dalam memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lainnya dari lingkungannya dialam dan ditumbuhkan dalam medium buatan. Pertumbuhan mikroba dapat dilakukan dalam medium padat, karena dalam medium padat sel-sel mikroba akan terbentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya (Sutejo dkk, 1991).
Menurut Pradhika (2008), ada beberapa teknik isolasi mikrobia, yaitu :
  1. Teknik penanaman dari suspensi
Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran terakhir.
2.      Spread plate (agar tabur ulas)
Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri di permukaan agar, agar diperoleh kultur murni. Prosedur kerjanya adalah suspensi cairan diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet kemudian teteskan diatas permukaan agar yang telah memadat. Trigalski kemudian dibakar diatas bunsen dan didinginkan beberapa detik. Kemudian suspensi diratakan dengan menggosokannya pada permukaan agar , penyebaran akan lebih efektif bila cawan ikut diputar.
            
3.      Pour plate (agar tuang)
Teknik ini memerlukan agar yang belum padat dan dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri dan dihomogenkan lalu dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebabkan sel-sel bakteri tidak hanya terdapat pada permukaan agar saja tapi juga di dalam atau dasar agar sehingga bisa diketahui sel yang dapat tumbuh dipermukaan agar yang kaya Odan di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung O2. Prosedur kerjanya adalah petridish, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair disiapkan. Kemudian 1 ml suspensi bakteri diteteskan secara aseptis ke dalam cawan kosong· Lalu medium yang masih cair dituang ke dalam petridish lalu petridish di putar membentuk angka 8 agar suspensi bakteri dan media homogen, kemudian diinkubasi.
  
Pada spread plate diteteskannya bakteri sebanyak 0,1 ml dan pada pour plate diteteskan sebanyak 1 ml karena spread plate bertujuan untuk menumbuhkan dipermukaanya saja, sedangkan pour plate membutuhkan ruang yang lebih luas untuk penyebarannya sehingga diberikan lebih banyak dari pada spread plate.

4.      Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak)
Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru.
5.      Goresan Sinambung
Prosedur kerjanya adalah inokulum loop (ose) disentuhkan pada koloni bakteri dan gores secara kontinyu sampai setengah permukaan agar. Lalu petridish diputar 180o dan dilanjutkan goresan sampai habis. Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.

6.      Goresan T
Prosedur kerjanya adalah petridish dibagi menjadi 3 bagian menggunakan spidol dan daerah tersebut diinokulasi dengan streak zig-zag. Ose dipanaskan dan didinginkan, lalu distreak zig-zag pada daerah berikutnya.
7.      Goresan Kuadran (Streak quadrant)
Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma. Goresan selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal

Inokulasi bakteri dimaksudkan untuk menumbuhkan, meremajakan mikroba dan mendapatkan populasi mikroba yang murni. Inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril sebelum digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh karena itu, diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut dengan teknik inokulasi biakan.
Teknik inokulasi merupakan suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Dengan demikian akan diperoleh biakan mikroorganisme yang dapat digunakan untuk pembelajaran mikrobiologi. Pada praktikum ini akan dilakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril untuk mempelajari mikrobiologi dengan satu kultur murni saja.

Teknik Inokulasi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu :
1.       Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni.
Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan.
Ada beberapa teknik menggores yang biasa digunakan : 
2.       Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah.
3.       Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
4.       Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam media (Winarni, 1997).
 Macam-Macam Media
Ada beberapa macam media yang digunakan untuk inokulasi yaitu :
  1. Mixed culture : berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme.
  2. Plate culture: media padat dalam petridish.
  3. Slant culture : media padat dalam tabung reaksi.
  4. Stap culture : media padat dalam tabung reaksi, tetapi penanamannya dengan cara penusukan.
  5. Liquid culture : media cair dalam tabung reaksi.
  6. Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya dikocok.

Daftar pustaka

Minggu, 09 Maret 2014

Plasmodium malariae


Nama             : FIQRAN S. LAMANI
NIM                 : PO. 717134071012030
M.K                 : PARASITOLOGI

Plasmodium malariae
Plasmodium malariae merupakan penyebab dari Malaria quartana dimana biasanya pada hari keempat pasien akan merasakan demam. Jenis malaria ini memiliki sekitar 7% kemungkinan kasus yang terjadi pada manusia.Adapun gambar Plasmodium malariae dapat dilihat pada lampiran Gambar B.4. Berikut bentuk – bentuk Plasmodium malariae dan ciri-cirinya.
Bentuk stadium Plasmodium pada sediaan darah tebal
a. Tropozoit muda : 1. Cincin lebih tebal dengan inti yang kasar dan sedikit sitoplasma yang biasanya tertutup tanpa vakuola, 2. Pigmen berbentuk lebih awal, 3. Praktis tingkat yang lebih tua selalu ada bersama cincin ini.
b. Tropozoit sedang berkembang : 1. Kecil, kompak, biasanya bulat, pigmen menjadi padat gelap dengan butir – butir agak kasar, sehingga kelihatan terbenam dalam pigmen, 2. Fase tropozoit ini langsung lama, jadi tingkat ini adalah yang paling lazim dan paling sering dijumpai.
c. Tropozoit dewasa : 1. Kompak, warna lebih tua dan ukuran lebih besar dari tingkat sebelumnya. 2. Pigmen yang kasar, coklat tua dan berlimpah, sering menutupi inti, 3. Sukar membedakannya dengan gametosit P. falciparum yang membulat atau dengan gametosit P. malariae.
d. Skizon muda :1. Sangat mirip P. vivax kecuali parasitnya yang lebih kecil, 2. Sering sangat kompak sehingga sulit mengenal susunan dalam dari parasit, 3. Biasanya bersama-sama dengan parasit tingkat lainnya, 4. Sukar dibedakan dengan skizon muda P.vivax.
e. Skizon tua : 1. Stadium yang kadang menjadi dalam sediaan darah tebal, 2. Dapat dijumpai dalam jumlah yang banyak dan biasanya bersama tropozoit atau skizon muda atau kedua-duanya.
f. Gametosit muda : 1. Pigmen padat dan gelap, lebih sering mengumpul kadang – kadang memancar, 2. Sama dengan P. vivax kecuali tidak begitu sering dijumpai, 3. Menyerupai tropozoit yang sehingga sulit untuk dibedakan.
g. Gametosit tua : 1. Biasanya jumlah sedikit dan agak kecil dari P. vivax, 2. Pigmen lebih kasar dan lebih gelap dan dapat menyerupai gametosit P. falciparum yang membulat.

Bentuk stadium Plasmodium malariae dalam sediaan darah tipis
a. Tropozoit awal : 1. Ukuran 1/3 dari eritrosit, 2. Berbentuk cincin padat, 3. Kromatin sering ditemukan suatu massa dalam cincin, 4. Bentuk acole tidak ada.
b. Tropozoit sedang berkembang : 1. Ukuran kecil, bentuk padat, 2. sering berbentuk barang, 3. vacuole tidak dikenal, 4. kromatin titik atau benang, 5. Pigmen bentuk kasar, berwarna coklat tua dan jumlahnya banyak, 6. Penyebaran gumpalan atau batang yang tersebar.
c. Skizon immature ( muda ) : 1. Ukuran hampir mengisi, 2. Bentuk padat, 3. Kromatin sedikit berupa massa ireguler, 4. Pigmen tersebar
d. Skizon matur ( tua ) : 1. Ukuran hampir mengisi eritrosit, 2. Bentuk berpigmen, 3. Merozoit 6 – 12 dan rata – rata 8, 4. Ukuran besar, 5. Pigmen berkumpul ditengah
e. Mikrogametosit : 1. Waktu timbul 7 – 14 hari, 2. Ukuran dalam darah sedikit, 3. Ukuran lebih kecil daripada eritrosit, 4. Bentuk bulat padat, 5. Sitoplasma biru pucat, 6. Kromatin seperti P. Vivax
f. Makrogametosit : 1. Waktu timbul 7 – 14 hari, 2. Jumlah dalam darah sedikit, 3. Ukuran lebih kecil daripada eritrosit, 4. Bentuk bulat padat, 5. Sitoplasma biru tua, 6. Kromatin seperti P. vivax, 7. Pigmen seperti P. Vivax

Plasmodium malariae
Peringkat
Huraian
Trofozoit awal
clip_image032
- Bentuk cincin
- RBC tidak membesar
- Saiz 1/3 daripada RBC
- Kromatin seperti spesies lain
- Terdapat juga dalam bentuk ‘BIRD EYE’
- Mungkin ada pigmen
Trofozoit matang
- RBC tidak membesar
- Saiz kecil
- Bentuk padat, berjalur
- Pigmen kasar, coklat tua, bertabur dalam bentuk rod/gumpalan
- Kromatin : berbintik / berfibril
Skizon awal
- RBC tidak membesar
- Saiz : hampir memenuhi RBC
- Bentuk padat
- Pigmen bertaburan
- Kromatin: bentuk tak tetap
Skizon matang
clip_image030
- RBC tidak membesar
- Saiz hampir memenuhi RBC
- Bentuk bersegmen (daisy head)
- Merozoit (6-12) min 8
- Pigmen bertaburan di tengah-tengah (warna coklat) / perang
Mikrogametosit
- RBC tidak membesar
- Muncul 7-14 hari
- Saiz: lebih kecil dari RBC
- Bentuk bulat dan padat
- Sitoplasma: biru pucat
- Kromatin berfibril
- Pigmen bertaburan

Makrogametosit
clip_image028
- RBC tidak membesar
- Bentuk bulat dan padat
- Saiz lebih kecil dari RBC
- Sitoplasma:biru tua
- Kromatin padat (periferi)
- Pigmen kecil




 























 Siklus hidup
Di dalam tubuh manusia dan nyamuk Anopheles berlangsung daur hidup plasmodium. Manusia merupakan hospes perantara tempat berlangsungnya daur hidup seksual, sedangkan di dalam tubuh nyamuk berlangsung hidup seksual. Berikut adalah macam-macam tahap aseksual :
1.      Tahap skizogon preeritrositik ialah lamanya tahap ini susah ditentukan dan berlangsung di dalam se-sel hati.
2.      Tahap skizogoni eksoeritrositik merupakan sumber pembentukan stadium aseksual parasit yang menjadi penyebab terjadinya kekambuhan pada malaria dan berlangsung di dalam se-sel hati.
3.      Tahap skizogoni eritrositik ialah tahap ini berlangsung setiap 72 jam dan berlangsung di dalam sel-sel eritrosit.
4.      Tahap gametogoni, setelah terbentuk pada tahap skizogoni eritrositik, kemudian berkembang pada tahap gametogoni dan berlangsung di dalam se-sel eritrosit.

Daur pra-eritrosit pertama kali ditemukan pada simpanse. Inokulasi sporozoit plasmodium malariae karena tusukan nyamuk Anopheles dan membuktikan stadium pra-eritrositplasmodium malariae.
Siklus hidup dari penyakit malaria ini adalah sebagai berikut : nyamuk anopheles betina yang mengandung bibit penyakit, menyerang manusia yang sehat, segera sporozoit memasuki sel-sel parenkim limpa, bentuk seperti amoeba yang disebut dengan trophozoit memasuki sel-sel darah dan mengadakan pembelahan. Tiap trophozoit berubah menjadi schizon, kemudian mengadakan pembelahan dan berubah menjadi 6 – 36 anak yang disebut dengan merozoit. Pembelahan thropozoit menjadi merozoit terjadi didalam eritrosit ( sel darah merah). Pada sel darah merah yang mengandung merozoit pecah, sehingga merozoit menyebar dalam plasma darah setelah lebih kurang 10 hari jumlah parasit menjadi cukup banyak. Pada saat merozoit lepas dari sebuah sel eritrosit yang sudah pecah akan menyebabkan demam pada penderita (hospes), hal ini dikarenakan tersebarnya toksin yang disebarkan oleh  plasmodium malariae.